Senin, 07 Februari 2011

bagaimana caranya menjadi orang sukses??

Bismillah...
Ada banyak sekali cara yang sering digunakan oleh seseorang untuk menilai karakter dan kepribadian orang lain. Ada yang melihat dari tingkah lakunya, dilihat bagaimana sikapnya, cara berjalannya dll. Ada yang dilihat dari cara berpakaiannya, dsb. Bahkan ada yang menilai kepribadian dari rasa es krim yang disukainya. Ada lagi sebuah situs nih, namanya primbon.com. Di sana ada cara menilai kepribadian seseorang lewat tanggal lahir, ada juga yang lewat posisi tahi lalat yag ada di tubuhnya, yang aneh lagi yaitu melalui (maaf) cara kentutnya. Kebayang nggak ya, bagaimana menentukannya?
Yang aneh lagi nih, konon katanya dalam sebuah majalah wanita (saya cuma dapat cerita dan tidak baca sendiri) ada yang menilai karakter kepribadian seseorang lewat bentuk bibirnya. Kalau bibirnya tipis semua katanya kepribadiannya jelek, soalnya dia ceriwis dan suka ngomel. Kalau lebih tebal yang atas atau yang bawah katanya juga kurang baik. Lah lebih bahaya lagi kalau tebal semua, berarti habis disengat lebah. Afwan kalau ada yang seperti yang saya contohkan, ini hanya kata dalam majalah tersebut bukan kata saya.... jadi nggak usah pegang-pengang bibir segala.
Lain lagi salah satu suku di Myanmar. Seorang wanita dinilai memiliki kepribadian yang tinggi dilihat dari panjang lehernya, semakin panjang lehernya semakin tinggi kepribadiannya. Sehingga seorang anak perempuan di sana sampai dipasang sebuah gelang dari besi dilehernya. Dan setiap bertambah usianya, gelang tersebut juga ditambah. Sehingga leher tersebut dipaksa untuk semakin panjang dan panjang. Ini sangat berbahaya, karena yang memanjang bukanlah tulang lehernya tetapi karena sambungan atara tulang leher yang merenggang. Sehingga kalau gelang tersebut dilepas dari lehernya, leher tersebut bisa patah karena tidak kuat menyangga kepala.
Ada lagi cara menilai kepribadian pada salah satu suku di Afrika sana. Mereka menilai kepribadian seorang wanita dari lebar bibirnya. Jadi untuk menilai kepribadian seorang wanita mereka menarik bibir bawahnya kemudian diletakkan cowek (yang buat ngulek sambel) dibibir tersebut, semakin besar cowek yang bisa masuk kesitu maka semakin tinggi pula kepribadiannya.
Masih banyak lagi cara menilai kepribadian seseorang, dan setiap daerah banyak yang memiliki cara sendiri yang berbeda-beda. Kalau kita melihat, orang Jawa yang terkenal sikapnya lemah lembut, sehingga kalau bicara sampai muter-muter kesana-kemari. Jadi kalau mau menyampaikan sesuatu mukadimahnya saja sudah satu jam sendiri baru masuk ke inti permasalahannya yang hanya lima menit saja, karena terlalu banyak basa-basi. Beda halnya dengan orang Madura, orang Sunda, begitu juga dengan orang Batak dan suku-suku yang lain.
Lantas bagaimana cara menilai kepribadian seseorang? Adakah standar tersendiri untuk menilainya?
Kalau dalam psikologi dulu waktu saya jadi psikotester, untuk menilai kepribadian seseorang dilakukan tes kepribadian dengan menjawab pernyataan-pernyataan yang macem-macem gitu. Inipun menurut saya juga tidak selalu valid, bisa jadi orang yang menjawab pernyataan tersebut mengerjakannyya secara acak dan asal pilih jawaban saja. Jadi mana mungkin kita bisa menilainya dengan benar?
Kalau kita hanya menyandarkan dari penampilan pun demikian juga, belum tentu orang yang penampilannya menawan lebih baik kepribadiannya dari orang yang biasa-biasa saja. Kita kembali melihat sejarah Islam, kamu kenal Bilal bin Rahbah? Juga kenalkah kamu dengan Mus’ab bin Umair? Kalau kita lihat secara fisik keduanya jelas berbeda. Bilal yang digambarkan sebagai seorang yang berkulit hitam, rambutnya juga tidak lurus, dia juga bekas budaknya Umayah yang dimerdekakan oleh Abu Bakar. Sedangkan Mus’ab bin Umair adalah seorang pemuda yang kaya raya lagi cakep dan dermawan. Seandainya dia lewat di daerah kita, bisa jadi banyak ibu-ibu yang kecantol kepadanya. Tetapi apa kenyataannya? Mereka berdua sama-sama dijamin masuk surga.
Kita lihat bagaimana Abu Bakar dan Umar bin Al Khattab, mereka memiliki karakter yang berbeda pula. Tapi keduanya juga dijamin masuk surga. Ternyata penampilan, sikap dan tingkah laku tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai kemuliaan seseorang. Apalagi hanya dengan kita melihat penampilan luarnya saja. Lantas apa yang menjadikan seseorang tinggi derajat serta kepribadiannya?
Ingatkah kita dengan firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat yang ke 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”

Allah Azza wa Jalla tidak menilai kita dari bentuk fisik dan penampilan kita. Tetapi orang yang berkepribadian tinggi dan mulia di sisi-Nya adalah mereka yang paling takwa kepadanya. Oleh karena itu setiap hal yang ingin kita lakukan hendaklah disandarkan pada dinul Islam, yaitu dengan mendasari dan menyesuaikan setiap tindakan kita dengan Al Kitab dan As Sunnah. Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kita dalam salah satu ayatnya:

“Apa-apa yang diperintahkan rasul kepadamu, maka kerjakanlah. Dan apa-apa yang dilarangnya padamu, maka tinggalkanlah.”

Tolong dicari sendiri surat apa ayat berapa? Afwan saya lupa..! J
So... ayo kita contoh apa-apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam, dalam sikap kita, pola hidup kita dan amalan kita. Caranya, belajarlah dulu sebelum beramal, ilmuilah setiap amalan yang hendak kita kerjakan. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar